Skip to main content
FOTO: Freepik
FOTO: Freepik

Lari, Hobi Sehat yang Makin Ngetren

By Salma Fauziah
FOTO: Freepik
FOTO: Freepik

Lari, Hobi Sehat yang Makin Ngetren

By Salma Fauziah

Nyadar nggak kalo olahraga lari tuh ngetren banget belakangan ini? Terbukti dengan banyaknya event maraton yang diselenggarakan di berbagai kota, viralnya aplikasi pelacak jarak tempuh lari seperti Strava, hingga riuhnya update kegiatan lari di Instagram Story.

Kenapa sih olahraga lari bisa ngetren?

Menurut data dari Garmin, jumlah pelari di Indonesia meningkat hingga tiga kali lipat pada tahun 2024.  Lari telah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang. Melansir Media Indonesia, naiknya kesadaran tentang manfaat lari, serta penggunaan smart watch menjadi beberapa pemicunya.

Kecintaan terhadap lari ini akhirnya merembet ke aspek lain, yaitu pariwisata. Ada banyak perhelatan lari yang turut mempromosikan objek pariwisata tertentu. Sebut saja Borobudur Marathon, Bromo Marathon, atau Bali Marathon. Ajang-ajang seperti itu bisa menarik pecinta lari dari seluruh Indonesia untuk bergabung dalam tempat yang sama. Otomatis, hal tersebut bisa mendongkrak roda pariwisata di kawasan penyelenggara.

Yasha Chatib, co-founder dari komunitas lari Indo Runners menjelaskan bahwa umumnya orang yang memilih berlari sekaligus berwisata biasanya membawa rombongan untuk bisa berwisata bersama setelah maraton berakhir.

Hobi yang terus berevolusi

Hobi lari terus berevolusi. Event lari maraton tak lagi hanya diikuti oleh mereka yang memang sudah ‘ahli’, tapi juga para pelari amatiran. Selain alasan kebugaran, para pelari amatir juga ingin melakukan aktualisasi diri serta mengikuti tren media sosial. Well, selama trennya sehat, tentunya sah-sah saja untuk diikuti, bukan?

Aktivitas lari juga semakin menyenangkan dengan adanya aplikasi pelacak langkah kaki, rute, hingga durasi, misalnya Strava, Runkeeper, hingga Google Fit. Tahun 2024 ini, Strava bahkan merilis laporan bertajuk Year in Sport: Trend Report. Laporan ini menghimpun miliaran data aktivitas pengguna Strava, guna melihat tren-tren apa yang membentuk kebiasaan olahraga seseorang.

Tren lari menurut laporan Strava

Mengambil data dari lebih dari 135 juta pengguna, Strava berhasil menemukan beberapa hal. Pertama, orang-orang zaman now mengutamakan hidup seimbang daripada olahraga secara ngoyo, lalu kelelahan. Buktinya, sebagian besar orang suka melakukan olahraga mikro alias yang durasinya tak sampai 20 menit.

Di tahun ini, olahraga juga jadi wadah untuk bersosialisasi. Buat yang hobi lari, ikut klub lari atau latihan maraton bersama keluarga tak hanya menyehatkan fisik, tetapi juga jiwa. Strava melaporkan bahwa durasi olahraga juga jadi lebih panjang kalau dilakukan berkelompok. Terlebih di Indonesia yang budayanya memang senang berkoloni.

Melihat tren ini, menarik sekali jika kita ikut menjadikan lari sebagai bagian dari rutinitas. Kita bisa memulainya dengan santai, seperti jogging di taman atau mencoba bergabung dengan komunitas lari untuk menambah semangat. Selain sehat, aktivitas ini juga membuka peluang untuk bertemu teman baru, mengeksplorasi tempat-tempat indah, hingga berbagi cerita inspiratif.



Share