Skip to main content
FOTO: TVOneNews
FOTO: TVOneNews

Banjir Bekasi Sudah Terjadi Berhari-hari, Presiden Beri Instruksi Meski Belum Datang ke Lokasi

By Salma Fauziah
FOTO: TVOneNews
FOTO: TVOneNews

Banjir Bekasi Sudah Terjadi Berhari-hari, Presiden Beri Instruksi Meski Belum Datang ke Lokasi

By Salma Fauziah

Bekasi, kota satelit Jakarta, dilanda banjir besar sejak Senin (3/3) malam. Salah satu pemicunya adalah tingginya debit air hujan, yang menyebabkan banjir mencapai ketinggian hingga tiga meter di beberapa wilayah.

Kerusakan parah di berbagai titik

Banjir terus meninggi, memaksa warga di daerah terdampak parah, seperti Kecamatan Jatiasih, untuk mengungsi. Secara keseluruhan, terdapat 20 titik banjir yang tersebar di tujuh kecamatan, yakni Bekasi Timur, Bekasi Utara, Bekasi Selatan, Medan Satria, Jatiasih, Pondok Gede, dan Rawalumbu.

Tak hanya rumah warga, banjir juga merendam hewan ternak dan berbagai kendaraan. Salah satu video viral di media sosial menunjukkan 55 ekor sapi mati akibat terendam banjir di Pekayon, Bekasi Selatan. Kerugian akibat peristiwa ini ditaksir mencapai Rp1,3 miliar, belum termasuk kerusakan lainnya.

Selain permukiman, pusat perbelanjaan juga tak luput dari banjir. Mega Bekasi Hypermall, misalnya, ikut diterjang air. Pada Rabu (5/3) pagi, sejumlah pedagang berusaha menyelamatkan dagangan mereka, tetapi tak semuanya bisa diselamatkan. Kerugian para pedagang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Banjir terparah dalam lima tahun terakhir

Banjir besar seperti ini dikenal sebagai siklus lima tahunan di Bekasi. Sebelumnya, banjir parah terakhir terjadi pada tahun 2020, dengan 372.874 jiwa mengungsi. Namun, banjir kali ini sudah melampaui angka tersebut. Hingga Rabu (5/3), data dari BPBD Kota Bekasi mencatat jumlah pengungsi mencapai 16.000 jiwa, jauh lebih tinggi dibandingkan banjir awal tahun 2024 yang menyebabkan 832 orang mengungsi. Ini menjadikannya salah satu banjir terparah dalam sejarah Bekasi.

Masalah laten sejak zaman kerajaan

Banjir bukanlah fenomena baru di Bekasi. Jika ditelusuri ke belakang, bencana ini sudah terjadi sejak era Kerajaan Tarumanegara, sekitar 1.500 tahun lalu. Raja Purnawarman saat itu menyadari bahwa wilayahnya,termasuk Bekasi saat ini,memiliki topografi rendah dan rawan banjir akibat aliran sungai besar seperti Cisadane, Citarum, dan Ciliwung.

Karena itu, permasalahan banjir di Bekasi lebih kompleks dari sekadar buruknya sistem drainase atau kebiasaan membuang sampah sembarangan. Tata kelola wilayah dan minimnya perhatian terhadap AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) turut berkontribusi. Minimnya daerah resapan air akibat masifnya pembangunan tanpa perencanaan lingkungan yang matang semakin memperparah kondisi.

Presiden Prabowo belum turun ke lokasi

Meski banjir di Bekasi menjadi bencana yang memprihatinkan, hingga kini Presiden RI Prabowo Subianto maupun Sekretaris Kabinet Mayor Teddy belum terlihat mengunjungi lokasi terdampak. Dua unggahan terakhir Presiden di media sosial menunjukkan aktivitas buka bersama keluarga dan Rapat Terbatas pada Selasa (4/3) untuk membahas program prioritas kabinet. Dalam pertemuan itu, Prabowo menginstruksikan BNPB untuk menangani banjir di wilayah Jabodetabek.

Meskipun Presiden telah menginstruksikan BNPB untuk menangani banjir, kehadiran seorang pemimpin di lokasi bencana sering kali menjadi bentuk empati dan dukungan moral bagi warganya. Di tengah ribuan pengungsi yang kehilangan tempat tinggal dan kerugian yang terus bertambah, banyak pihak menantikan langkah konkret dari pemerintah pusat



Share