Sleep Divorce, Tren Pisah Ranjang yang Diprediksi Makin Marak
Sleep Divorce, Tren Pisah Ranjang yang Diprediksi Makin Marak
Mengutip Sleep Foundation, 1 dari 3 pasangan memilih tidur di ruangan yang berbeda. Alasannya justru untuk meningkatkan kualitas tidur dan kualitas hubungan. Tren ini makin populer dengan sebutan sleep divorce.
Plus-minus dari sleep divorce
Beberapa pasangan yang mencoba tidur di kamar terpisah merasa kualitas tidurnya meningkat. Ada juga pasangan yang akhirnya kembali tidur bersama. Kelebihan dan kekurangan dari sleep divorce memang berbeda tergantung pada situasi masing-masing. Namun, secara umum kelebihannya adalah:
- Kualitas tidur meningkat, karena tingkat gangguan yang rendah. Pasangan yang memutuskan tidur terpisah biasanya punya kebiasaan tidur berbeda. Misalnya ada yang suka mendengkur keras, sehingga membuat pasangannya susah tidur nyenyak.
- Jam tidur bertambah, rata-rata pasangan yang melakukan sleep divorce mengalami peningkatan jam tidur sekitar 37 menit.
- Kualitas hubungan meningkat, karena kualitas tidur yang membaik maka dampaknya, hubungan jadi lebih sehat. Alasannya adalah karena kekurangan tidur seringkali membuat kita mudah marah, sehingga berdampak pada hubungan yang memburuk.
Nah, tentunya sleep divorce juga punya beberapa kekurangan. Perlu diperhatikan nih sebelum memutuskan untuk pisah tempat tidur:
- Intimitas berkurang, meski kualitas tidur jadi baik, tetapi intimitas yang biasanya didapat di ranjang jadi turun. Ini yang jadi alasan banyak pasangan memutuskan kembali tidur bersama.
- Butuh biaya tambahan, oleh karena sleep divorce membutuhkan dua kamar tidur, maka akan ada biaya tambahan yang diperlukan untuk mempersiapkannya.
- Beberapa orang justru tidak bisa tidur, meski kebanyakan pasangan justru berhasil meningkatkan kualitas tidur, sleep divorce justru bikin sebagian orang susah tidur. Kesulitan ini didasari atas hilangnya rasa aman karena tidak ada pasangan di dekatnya.
Tren sleep divorce saat travelling
Ada juga pasangan yang hanya melakukan sleep divorce saat bepergian. Misalnya, memesan kamar hotel yang berbeda saat travelling.
Menurut laporan Tren Hilton 2025 seperti dikutip Tempo, 37% pelancong lebih suka tidur di tempat terpisah dari pasangan saat bepergian. Laporan yang sama memperkirakan tren sleep divorce ini akan makin berkembang di tahun 2025. Maka, mulai banyak hotel yang menawarkan connected room (kamar terhubung) agar pasangan tetap berdekatan meski tidur terpisah.
Haruskah ikut tren sleep divorce?
Jika tidur bersama pasangan benar-benar mengganggu jam tidur dan rutinitas keseharian kita, maka sleep divorce mungkin bisa jadi pilihan. Tapi, ada juga alternatif lain jika dirasa keputusan sleep divorce terlalu besar.
Misalnya, jika keinginan sleep divorce datang karena pasangan yang selalu mendengkur, kita bisa melakukan terapi untuk membantu pasangan sembuh dari dengkurnya. Alternatif lain adalah mencoba mencari jalan tengah dari kebiasaan tidur yang berbeda.
Demikianlah tren sleep divorce dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semua kembali ke preferensi dan kebutuhan masing-masing. So, apakah Anda termasuk tim yang mendukung sleep divorce?