Gibah di Media Sosial, Keisengan yang Sarat Dampak Negatif
Gibah di Media Sosial, Keisengan yang Sarat Dampak Negatif
Membicarakan keburukan orang lain atau menggibah memasuki era baru di tengah perkembangan komunikasi digital. Menggibah tidak lagi menjadi perbuatan yang harus dilakukan secara diam-diam, melainkan menjadi seperti hiburan tersendiri di tengah padatnya arus informasi dunia maya.
Tak jarang beberapa pihak memanfaatkan hal ini dengan memasukkan segmen gibahan dalam rentetan postingan yang diunggahnya. Tentu sebagian orang merasa tertarik untuk berkecimpung bersama membahas keburukan orang lain.
Berbeda dengan media konvensional yang gibah hanya ditujukan pada tokoh-tokoh publik terkenal, media sosial menempatkan setiap orang dalam posisi yang sama untuk menjadi objek gibahan. Sekalipun orang tersebut adalah sosok paling tak berpengaruh dalam kehidupan kita, selama ada hal yang menarik darinya untuk dibahas, maka siap-siap saja namanya mentereng di laman pertama media sosial.
Selain itu, gibahan yang berlangsung di media sosial juga tidak melulu membahas hal berat macam hubungan selebriti atau politik, hal sepele seperti orang yang terpeleset pun bisa jadi bahan cemoohan bersama. Apalagi jika tingkah buruk itu dialami oleh orang paling dibenci sejagat maya, jari jemari netizen siap menghujat dengan penuh suka dan bahagia.
Sebelum menyelam lebih jauh, baiknya kita memahami terlebih dahulu definisi dari gibah. Menurut KBBI, gibah berarti membicarakan keburukan atau aib orang lain. Lebih rincinya gibah dilakukan tanpa melibatkan subjek yang menjadi perbincangan, dan biasanya topik yang dibicarakan adalah yang tidak disukai oleh subjek jika ia mengetahuinya.
Sekarang sudah paham? Oke lanjut.
Pada dasarnya ada banyak faktor yang mendorong perilaku gibah ini. Lingkungan menjadi peran utama dalam kemulusan kegiatan pergibahan. Omongan yang didukung oleh anggukan orang lain membawa dirinya pada tingkat yang lebih tinggi dari subjek gibah. Kesamaan persepsi membuatnya merasa apa yang dibicarakan adalah fakta yang wajib didengar tiap insan.
Emosi juga faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Biasanya karena emosi ini teramat berat dan tak bisa dibendung lagi, mencurahkan di media sosial adalah jalan satu-satunya. Simpatisan yang mendukung pemikirannya menjadi pembakar semangat untuk lebih gencar menyebarkan gibahnya.
Ini baru saja saya alami ketika sedang bersantai membuka X. Seorang perempuan menggibahi calon suaminya karena ketahuan selingkuh dengan berbagai perempuan berbeda. Bahkan salah satu selingkuhannya hingga hamil dan menggugurkan kandungannya.
Dari lukisan kata di thread X pengguna ini, saya dapat merasakan amarah dan emosi yang membara-bara. Perpaduan antara kesal, marah, dan kecewa mendorongnya membagikan permasalahan hidup di media sosial, berharap bebannya terangkat sedikit atau ada yang memberikan dukungan moril padanya.
Awas! Ada dampak negatif mengintai
Telah menjadi norma tersendiri di media sosial membuat netizen lupa ada banyak dampak negatif dari perilaku gibah. Tak hanya memengaruhi diri sendiri, lingkungan dengan sekitarnya juga terkena imbasnya.
Dari sisi pribadi, menggibah membawa seseorang dalam tingkatan baru yang berbeda. Ia merasa dirinya selangkah lebih maju dan baik dibanding yang lainnya. Beberapa sampai memamerkan pada dunia secara gamblang bahwa dirinya memang lebih ‘sempurna’ tanpa cacat barang secuil pun.
Akibatnya ia akan lupa bahwa sejatinya tidak ada manusia yang sempurna. Bahkan dirinya sekalipun pasti memiliki keburukan yang terpendam dan bisa jadi lebih buruk dari objek gibahannya. Perasaan kesempurnaan ini juga akan membawanya menolak berbagai masukan dan merasa semua orang harus mengikuti standar dirinya.
Dalam sisi pertemanan, gibah mampu merusak hubungan baik dengan orang lain. Siapa sih yang senang jika keburukannya dibicarakan oleh banyak orang di belakangnya? Pasti sakit hati akan muncul jika ia mengetahuinya. Maka hal yang wajar menyematkan predikat ‘teman bermuka dua’ pada sosok seperti ini, karena sejatinya ia bukanlah teman yang sesungguhnya.
Selanjutnya, rasa dendam juga bisa muncul pada diri yang digibahi. Perasaan sakit hati ini kemudian akan membekas bahkan hingga malaikat pencabut nyawa menghampirinya.
Saya jadi teringat dulu, ketika saya masih SD, guru wali saya pernah secara tidak sadar sedang membicarakan keburukan saya. Kala itu saya tidak bisa berbuat banyak. Menghindarinya adalah solusi yang cukup bijak. Akan tetapi, hingga bertahun-tahun lamanya, saya masih saja ingat dengan hal itu.
Kalau saya sih rasa benci dan dendam sudah lama sirna. Akan tetapi, kita tidak akan tahu bagaimana perasaan dan pola pikir yang dialami oleh orang lain. Salah-salah perbuatan buruk bisa disasarkan pada Anda.
Hukum juga mengatur gibah
Untuk Anda yang masih gemar merangkai kata demi kata di media sosial terkait keburukan orang lain berhati-hatilah, karena ancaman pidana menanti kalian. Aturan ini tertera pada Pasal 27 ayat (3) UU ITE dengan ancaman penjara paling lama 4 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 750 juta berdasarkan Pasal 45 ayat (3) UU 19/2016. Akan tetapi aturan ini bersifat delik, yang berarti jika tidak dilaporkan maka tidak ada tindak pidana yang berjalan.
Selain itu agama, terutama Islam, juga melarang penganutnya dalam melakukan gibah. Hal ini seperti yang difirmankan Allah swt dalam surah Al-Hujurat ayat 12 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
Beberapa kasus gibah bernilai positif
Meski mengandung sejumlah efek negatif jika dikerjakan, gibah juga bisa bernilai baik jika pemanfaatannya tepat. Misalnya, seorang pemerintah dengan jelas melakukan kezaliman pada rakyatnya. Dengan menggibahinya, diharapkan dapat menemukan titik terang dari permasalahan yang ada atau membuka mata hati pemerintah untuk menuju jalan yang lebih baik.
Atau ketika kita sedang dilanda permasalahan dengan orang tertentu dan hendak mencari pertolongan, menggibah bisa menjadi solusi dengan beberapa catatan seperti tidak menyebutkan secara terang sosok yang dimaksud dan tidak membleber ke permasalahan yang tidak ada sangkut pautnya.
Mengakhiri celotehan saya kali ini, gibah memang ada sisi positifnya meskipun lebih banyak negatifnya. Daripada menghabiskan waktu dan energi dengan mengeluarkan statement-statement penuh hujatan di media sosial, bukankah lebih baik intropeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik?