Skip to main content
Bus khusus perempuan di Pakistan (FOTO: Dawn)
Bus khusus perempuan di Pakistan (FOTO: Dawn)

Bus Pink Hingga Gerbong Khusus: Cukup untuk Melindungi Perempuan dari Pelecehan?

By Salma Fauziah
Bus khusus perempuan di Pakistan (FOTO: Dawn)
Bus khusus perempuan di Pakistan (FOTO: Dawn)

Bus Pink Hingga Gerbong Khusus: Cukup untuk Melindungi Perempuan dari Pelecehan?

By Salma Fauziah

Modernisasi ternyata belum mampu sepenuhnya melindungi perempuan dari pelecehan, terutama di transportasi umum (transum). Baik di negara berkembang maupun negara maju, ancaman yang sama terus mengintai perempuan. Bahkan, sebuah studi yang dilakukan oleh organisasi Stop Street Harassment menemukan bahwa 100% penumpang perempuan di transum Paris pernah mengalami pelecehan setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Melansir dari BBC, survei lain juga mengidentifikasi kota-kota yang dianggap paling berbahaya bagi perempuan yang bepergian menggunakan transportasi umum. Lima kota teratas yang disebutkan dalam survei tersebut adalah Bogota, Meksiko, New Delhi, dan Jakarta. Menariknya, empat dari kota tersebut, termasuk Jakarta, kini sudah memiliki fasilitas transportasi umum khusus perempuan sebagai langkah mitigasi.

Di Jakarta, ada beberapa jenis transum khusus perempuan. Misalnya, sejak Februari 2023, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mulai mengoperasikan bus berwarna pink yang dikhususkan untuk penumpang perempuan. Selain menyediakan transportasi, Transjakarta juga berkomitmen membantu korban pelecehan melalui jalur hukum jika kejadian tersebut berlangsung di dalam armadanya. Selain itu, Jakarta juga memiliki gerbong khusus perempuan di kereta commuter line (KRL) dan kereta ringan (LRT) Jabodetabek.

Namun, pertanyaan besar yang perlu dijawab adalah: apakah keberadaan transum khusus perempuan benar-benar mampu menjamin keamanan?

Banyak akademisi dan ahli kebijakan memandang bahwa pengadaan armada khusus perempuan ini hanyalah solusi sementara dan kurang menyentuh akar permasalahan. Mereka menilai langkah ini tidak efektif karena seolah-olah menormalisasi tindakan pelecehan. Fokus justru diarahkan pada perempuan agar menghindar, alih-alih menuntut pelaku untuk mengubah perilaku mereka.

Menurut Laura Bates selaku founder dari Everyday Sexism Project, kebijakan untuk mengatasi masalah pelecehan perempuan di tempat umum harus dilakukan dengan pendekatan perpretator-focused (fokus pada pelaku). Dengan demikian, perempuan akan merasa aman ketika bepergian, baik saat ada di dalam transum, atau setelah turun dan berbaur di jalan dan tempat umum. 

Menciptakan transportasi umum yang aman bagi perempuan bukan hanya soal menyediakan fasilitas khusus, tetapi juga menciptakan budaya yang mendukung kesetaraan dan keamanan di ruang publik. Kolaborasi antara pemerintah, pengelola transportasi, dan masyarakat menjadi kunci penting untuk mewujudkan hal ini.




Share