Skip to main content
FOTO: Ilustrasi Cuaca Panas yang Ekstrem (sumber: Getty Images/Phira Phonruewiangphing - DetikJateng)
FOTO: Ilustrasi Cuaca Panas yang Ekstrem (sumber: Getty Images/Phira Phonruewiangphing - DetikJateng)

Siang Terik Tanpa Awan: Kenapa Belakangan Ini Cuaca di Indonesia Semakin Panas

By Putri Nurbaiti
FOTO: Ilustrasi Cuaca Panas yang Ekstrem (sumber: Getty Images/Phira Phonruewiangphing - DetikJateng)
FOTO: Ilustrasi Cuaca Panas yang Ekstrem (sumber: Getty Images/Phira Phonruewiangphing - DetikJateng)

Siang Terik Tanpa Awan: Kenapa Belakangan Ini Cuaca di Indonesia Semakin Panas

By Putri Nurbaiti

Jakarta — Warga di berbagai wilayah Indonesia akhir-akhir ini merasakan intensitas panas yang tidak biasa. Suhu harian mencapai 35–38 °C, terutama terjadi antara pukul 11.00 hingga 16.00 WIB. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan para ahli dan lembaga klimatologi mengungkap beberapa faktor yang saling berkaitan. 

Fenomena “Hot Spell” dan peran pergantian musim

Menurut Prof. Erma Yulihastin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mempelajari iklim dan cuaca ekstrem, kondisi panas panjang beberapa hari yang terjadi saat ini disebut hot spell. Beberapa negara telah mengenali bahwa hot spell merupakan salah satu bentuk nyata dari perubahan iklim yang frekuensinya meningkat dan durasi cenderung lebih panjang.

Salah satu penyebabnya adalah posisi semu matahari yang kini sudah sedikit berada di selatan ekuator, sehingga sinar matahari jatuh lebih tegak ke permukaan Bumi bagian selatan including sebagian wilayah Indonesia yang membuat suhu siang hari meningkat.

Faktor lokal: kurangnya awan, angin kering, dan posisi geografis

Di wilayah Bali, misalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar mencatat tiga faktor utama yang membuat cuaca terasa “sangat panas”.

  1. Posisi semu matahari yang sudah optimal untuk sinar langsung yang kuat.

  2. Angin yang berasal dari Australia membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia bagian selatan/ tengah, sehingga menurunkan kelembapan dan membuat pembentukan awan sulit. Akibatnya, sinar matahari lebih mudah mencapai permukaan bumi tanpa banyak hambatan.

  3. Minimnya tutupan awan hujan atau awan pembentuk bayangan, sehingga sinar matahari langsung “membakar” permukaan bumi terutama pada siang hari.

Efek berganda: urban heat dan perubahan ruang hijau

Selain faktor atmosferik dan musiman, Prof. Erma dari BRIN juga menunjukkan bahwa fenomena panas ekstrem ini diperparah di kota-kota besar yang memiliki sedikit ruang terbuka hijau dan banyak aktivitas industri. Salah satu dampaknya adalah munculnya “pulau panas perkotaan” (urban heat island) ­kondisi suhu yang lebih tinggi di kawasan urban dibandingkan sekitarnya karena banyak panas yang tersimpan di beton, aspal, dan bangunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa bukan hanya alam yang memainkan peran, melainkan juga aspek pembangunan kota dan perubahan penggunaan lahan.

Apa yang bisa dilakukan masyarakat dan pemerintah?

Mengingat kondisi cuaca yang semakin panas dan ekstrem belakangan ini, masyarakat perlu lebih waspada dalam menjaga kesehatan dan kenyamanan selama beraktivitas di luar ruangan. Para pakar dari BRIN menyarankan agar masyarakat menggunakan tabir surya dengan SPF 45–50 untuk melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet berlebih. Selain itu, penting untuk menjaga asupan cairan tubuh dengan rutin minum air putih agar terhindar dari risiko dehidrasi akibat suhu yang tinggi. Aktivitas fisik seperti olahraga sebaiknya dilakukan pada waktu yang lebih aman dari sengatan matahari, yakni pada pagi hari sekitar pukul 07.00–09.00 atau sore hari antara pukul 17.00–19.00 WIB, ketika suhu udara cenderung lebih sejuk dan tidak terlalu terik.

Sementara itu, bagi pemerintah dan pemangku kebijakan, upaya mitigasi panas ekstrem dapat dilakukan melalui penerapan solusi berbasis alam. Langkah ini mencakup penambahan dan perawatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, penanaman pohon rindang di area publik, serta penerapan konsep penghijauan atap (green roof) untuk mengurangi penyerapan panas di bangunan. Selain itu, kebijakan tata ruang yang memperhatikan keseimbangan antara pembangunan fisik dan kelestarian lingkungan menjadi kunci penting untuk menekan efek “pulau panas” atau urban heat island. Melalui kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah, diharapkan dampak panas ekstrem yang kini dirasakan bisa diminimalkan, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sejuk, sehat, dan berkelanjutan.

Fenomena cuaca panas ekstrem belakangan ini di Indonesia bukanlah terjadi karena satu faktor saja. Kombinasi antara posisi semu matahari, massa udara kering yang datang dari Australia, minimnya tutupan awan, kondisi perkotaan yang menyimpan panas, dan perubahan iklim secara global menciptakan “resep” bagi suhu yang semakin meningkat. Dan seperti yang diungkap oleh BMKG serta BRIN, jika hujan belum turun merata di beberapa wilayah, maka cuaca panas seperti ini bisa berlangsung hingga bulan mendatang. 



Share