Aqua Disemprot Menteri LH: “Katanya Peduli, Tapi Sungai Masih Jadi Tempat Sampahmu!”
Aqua Disemprot Menteri LH: “Katanya Peduli, Tapi Sungai Masih Jadi Tempat Sampahmu!”
JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, tampaknya udah hilang sabar. Kali ini, sasaran tembaknya bukan sembarang orang, tapi langsung ke produsen-produsen raksasa yang hobi buang sampah sembarangan—secara sistematis dan dalam jumlah yang, ya… nggak tanggung-tanggung.
Yang paling kena semprot? Siapa lagi kalau bukan Danone Aqua, si raja air minum dalam kemasan yang ternyata juga rajin nyumbang sampah plastik ke sungai-sungai Indonesia. Data udah dikantongin, dan Menteri Hanif nggak ragu buat bawa urusan ini ke meja hukum.
“Datanya jelas. Kami akan tuntut,” ujarnya, saat inspeksi ke fasilitas Sungai Watch di Gianyar, Bali. Nadanya? Serius. Mukanya? Nggak main-main.
Dan memang datanya nendang banget. Menurut laporan Brand Audit Report 2024 dari Sungai Watch, Aqua jadi penyumbang sampah plastik nomor wahid—udah empat tahun berturut-turut, bayangin! Dari lebih dari 600 ribu potong sampah yang mereka kumpulin di Bali dan Banyuwangi, sekitar 36 ribuan di antaranya bertuliskan: Aqua. Selamat ya, juara bertahan!
Yang paling bikin geleng-geleng, sebagian besar sampah itu bentuknya gelas plastik kecil. Iya, yang biasa kita beli di warung, yang katanya “praktis”, tapi ujung-ujungnya nyangkut di aliran sungai, nggak bisa didaur ulang, dan akhirnya… jadi dosa lingkungan.
Padahal, Danone sering banget pamer soal program daur ulang dan kepedulian lingkungan. Tapi kenyataannya? Masih tergantung banget sama kemasan sekali pakai. Sungai Watch bahkan bilang, komitmen itu “nggak nyambung sama realita.” Alias, omong besar doang.
Menteri Hanif nggak tinggal diam. Ia bilang bakal maksa para produsen bayar ganti rugi berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009. Kalau masih ngeyel? Siap-siap diseret ke pengadilan. Dan menurut beliau, "Hampir di semua pengadilan, kami nggak pernah kalah." Waduh, udah kayak film laga.
Sebenarnya pemerintah ngasih kesempatan lewat kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR)—tapi sayangnya, buat produsen yang masih keras kepala dan males ubah format kemasan, skema ini jadi batu ujian. Mau terus pakai plastik mini sekali buang? Ya, siap-siap dihajar denda atau masuk meja hijau.