Skip to main content
Sanitasi Air Bersih (Pinterest)
Sanitasi Air Bersih (Pinterest)

Kenyataan Pahit: Akses Air Bersih Indonesia Masih Tertinggal di Asia Tahun 2024

By Putri Nurbaiti
Sanitasi Air Bersih (Pinterest)
Sanitasi Air Bersih (Pinterest)

Kenyataan Pahit: Akses Air Bersih Indonesia Masih Tertinggal di Asia Tahun 2024

By Putri Nurbaiti

Kita semua tahu betapa pentingnya air bersih dan sanitasi yang layak buat kehidupan sehari-hari. Tapi, tahukah kamu kalau Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara Asia lainnya dalam hal ini?

Akses Air Minum: Banyak yang Belum Terjangkau

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, hanya sekitar 44,94% rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses air minum memadai. Artinya, lebih dari setengah rumah tangga belum mendapatkan air minum yang layak. Bahkan, di beberapa provinsi seperti Kalimantan Timur, angkanya hanya 16,52%.

Lebih parah lagi, hanya sekitar 9,2% masyarakat yang menggunakan air leding sebagai sumber air minum. Sisanya, banyak yang masih mengandalkan air tanah atau air kemasan, yang belum tentu aman untuk dikonsumsi.

Kondisi Sanitasi yang Memprihatinkan

Menurut data dari UNICEF, hampir 70% sumber air minum rumah tangga di Indonesia tercemar limbah tinja. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya sanitasi yang aman dan kurangnya infrastruktur yang memadai. Banyak rumah tangga yang tidak memiliki akses ke toilet dengan sambungan tangki septik yang tertutup dan rutin dibersihkan, yang hanya dimiliki oleh kurang dari 8% rumah tangga di Indonesia. 

Layanan air perpipaan di Indonesia juga masih sangat rendah. Data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menunjukkan bahwa hanya sekitar 21,69% masyarakat Indonesia yang terlayani dengan air perpipaan. 

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia, Indonesia masih tertinggal dalam hal akses air bersih. Vietnam pada tahun 2022, sekitar 97,96% penduduk Vietnam menggunakan setidaknya layanan air minum dasar, sedangkan Malaysia pada data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 90,2% penduduk pedesaan di Malaysia memiliki akses ke layanan air minum dasar.

Sanitasi: Masih Banyak PR

Dalam hal sanitasi, kondisinya juga memprihatinkan. Meskipun sekitar 80% rumah tangga memiliki akses sanitasi layak, hanya 7% yang benar-benar aman. Artinya, sebagian besar sistem sanitasi masih belum memenuhi standar kesehatan yang baik. Bahkan, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah praktik buang air besar sembarangan (BABS) tertinggi di dunia. Sekitar 8,6 juta rumah tangga masih melakukannya karena tidak memiliki fasilitas sanitasi yang memadai.

Dampak Kesehatan dan Ekonomi

Kondisi air dan sanitasi yang buruk berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Banyak anak-anak yang mengalami stunting atau pertumbuhan terhambat karena sering terkena diare akibat air yang tercemar. Selain itu, kualitas air yang buruk juga menyebabkan berbagai penyakit lainnya. Penyakit diare, yang merupakan salah satu dampak dari sanitasi buruk, menyebabkan sekitar 1,4 juta anak menderita setiap tahunnya.

Buruknya sanitasi dan akses air bersih tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Menurut data dari Pokja AMPL, Indonesia mengalami kerugian ekonomi sebesar Rp 56 triliun setiap tahunnya akibat kondisi sanitasi dan air minum yang buruk.

Upaya Pemerintah dan Tantangannya

Pemerintah sebenarnya sudah menetapkan target ambisius dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, yaitu 100% akses air minum layak dan 90% akses sanitasi layak. Namun, hingga kini, pencapaian tersebut masih jauh dari target.

Berbagai program seperti PAMSIMAS dan pembangunan sistem penyediaan air minum telah dilakukan. Namun, tantangan seperti keterbatasan anggaran, koordinasi antar lembaga, dan kondisi geografis Indonesia yang beragam membuat implementasinya tidak mudah.

Saatnya Bertindak

Kondisi air bersih dan sanitasi di Indonesia masih jauh dari ideal. Dibutuhkan upaya lebih keras dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat, untuk memperbaiki situasi ini. Karena akses air bersih dan sanitasi yang layak bukan hanya tentang kenyamanan, tapi juga tentang hak dasar manusia dan masa depan bangsa.



Share