Kecil di Tangan, Nyampah di Alam
Kecil di Tangan, Nyampah di Alam
Jakarta – Sekilas memang terlihat manis. Kecil, ringan, praktis. Tapi siapa sangka, si gelas plastik mungil berisi air mineral itu ternyata punya “rekam jejak kriminal” di lingkungan kita. Kalau kamu pernah minum Aqua gelas 220 ml dan buangnya sembarangan, selamat kamu berkontribusi pada masalah sampah plastik terbesar di negeri ini.
Menurut laporan Audit Brand 2024 dari Sungai Watch, Aqua gelas berhasil mempertahankan gelarnya sebagai raja sampah plastik paling dominan selama empat tahun berturut-turut. Tahun ini saja, 10.910 sampah kemasan gelas Aqua ditemukan berkeliaran di sungai dan TPA. Itu 30% dari total sampah yang “disumbangkan” Danone ke alam. Sebuah prestasi... yang jelas bukan layak dirayakan.
Saking frustrasinya, pendiri Sungai Watch sampai nyerocos di Instagram: “Danone, kami nggak bisa terus bersihin sampah kalian seumur hidup.” Gitu katanya. Penuh perasaan.
Bahkan bukan hanya Sungai Watch yang gerah. Survei Litbang Kompas dan Net Zero Waste Management Consortium (NZWMC) juga menunjukkan hal serupa. Di enam kota besar, Aqua gelas jadi juara empat sebagai sumber sampah, hanya kalah dari plastik tanpa merek, kantong kresek, dan bungkus mi instan. Lumayan lah, masih podium.
Masalahnya? Gelas plastik itu ibarat cinta beracun. Kelihatannya nggak berbahaya, tapi ninggalin luka dalam. Ukurannya kecil, sulit dikumpulkan, gampang nyelip, dan nyaris nggak laku didaur ulang. Jadi meskipun Danone berkali-kali bilang kemasannya “100% bisa didaur ulang”, nyatanya banyak yang nyangkut di selokan, bukan pabrik daur ulang.
Bahkan yang bikin makin panas, ternyata janji buat berhenti produksi Aqua gelas ini udah pernah diucapin sejak 2021 sama CEO Danone Indonesia waktu itu, Corine Tap. Tapi... surprise! Sampai sekarang, gelas mungil itu masih mondar-mandir di warung, kantor, dan ruang tunggu.
Lucunya lagi, saat ditelusuri lewat laporan investigasi Arte TV, Danone justru berdalih kalau Aqua gelas masih jadi primadona pasar Indonesia. Jadi ya… gitu deh, antara peduli lingkungan dan “biar laku” kayaknya masih tarik-ulur.
Untungnya, Bali nggak mau terus-terusan disuguhi plastik mungil ini. Gubernur Wayan Koster ngeluarin larangan tegas: nggak boleh lagi ada produksi AMDK di bawah 1 liter. Kalau masih ngeyel? Sanksi siap mendarat. Mulai dari pencabutan izin usaha sampai diumumkan ke publik sebagai perusahaan yang “tidak layak dikunjungi”. Gimana, cukup malu-maluin?
Tentu saja, langkah ini langsung ditolak sama ASPADIN, asosiasi produsen AMDK (tempat Aqua juga bernaung). Mereka bilang larangan ini bisa ganggu industri dan pariwisata. Tapi... pariwisata macam apa yang nyaman dengan pantai penuh sampah gelas?