Skip to main content
FOTO: Bantuan Udara yang Kontroversial Warga Tabut Sibolga Mengais Beras dari Tanah (sumber: Tangkapan Layar dari iNews Medan)
FOTO: Bantuan Udara yang Kontroversial Warga Tabut Sibolga Mengais Beras dari Tanah (sumber: Tangkapan Layar dari iNews Medan)

Di Tengah Isolasi, Bantuan Udara Kontroversial: Warga Taput–Sibolga Mengais Beras dari Tanah

By Putri Nurbaiti
FOTO: Bantuan Udara yang Kontroversial Warga Tabut Sibolga Mengais Beras dari Tanah (sumber: Tangkapan Layar dari iNews Medan)
FOTO: Bantuan Udara yang Kontroversial Warga Tabut Sibolga Mengais Beras dari Tanah (sumber: Tangkapan Layar dari iNews Medan)

Di Tengah Isolasi, Bantuan Udara Kontroversial: Warga Taput–Sibolga Mengais Beras dari Tanah

By Putri Nurbaiti

Di tengah bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Tapanuli Utara (Taput), Tapanuli Tengah (Tapteng), dan Sibolga sejak akhir November 2025, penyaluran bantuan logistik oleh pemerintah dan aparat keamanan menuai respons beragam dari masyarakat. Salah satu momen yang viral di media sosial adalah ketika paket bantuan bahan pangan dijatuhkan dari helikopter dan beras pun tercecer di tanah, memaksa warga memungut kembali beras tersebut dengan tangan dan pakaian mereka.

Fenomena ini terjadi karena akses jalur darat menuju desa-desa terdampak masih terputus oleh material longsor dan banjir yang menghancurkan infrastruktur utama. Akses yang lumpuh tersebut membuat tim SAR, aparat TNI/Polri, dan relawan kesulitan menyalurkan bantuan melalui jalur konvensional. Untuk menjangkau wilayah yang benar-benar terisolasi, helikopter dipilih sebagai metode distribusi bantuan udara.

Namun, bantuan yang dijatuhkan dari udara baik berupa beras, mie instan, maupun paket sembako tak selalu tiba dalam kondisi utuh di tangan warga. Dalam beberapa video yang beredar, terlihat bungkus beras pecah saat menyentuh tanah. Warga kemudian terlihat memungut kembali butiran beras yang bercampur tanah, memasukkannya ke dalam wadah seadanya atau langsung ke pakaian mereka. Potongan video itu viral dan menjadi sorotan publik.

Bupati Tapanuli Utara, Jonius Taripar Parsaoran, memberikan penjelasan mengenai insiden tersebut. Menurutnya, rencana awal adalah mendaratkan helikopter di tempat terbuka seperti lapangan sekolah agar bantuan bisa diserahkan secara langsung kepada warga. Namun, kendala berupa keberadaan kabel listrik di area tersebut membuat pendaratan helikopter tak memungkinkan. Oleh karena itu, pilot memilih untuk melakukan airdrop atau menjatuhkan bantuan di titik yang dianggap paling aman. Meski demikian, tindakan ini menyebabkan beberapa paket bantuan rusak saat sampai di darat.

Panglima TNI pun turut menjawab kritik yang muncul terkait metode penyaluran bantuan tersebut. Ia menegaskan bahwa keselamatan pilot dan personel di lapangan tetap menjadi prioritas. Dalam keterangannya, sejumlah bantuan dijatuhkan dari udara karena kondisi terisolasi dan tidak ada ruang aman untuk pendaratan helikopter. Sistem helibox dan payung udara digunakan untuk menjaga agar paket bantuan tidak hancur saat dijatuhkan meskipun tetap ada kemungkinan kerusakan, terutama di medan berat seperti area banjir dan longsor.

Kondisi isolasi yang berkepanjangan membuat kebutuhan pokok menjadi sangat mendesak. Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ribuan warga masih terjebak di lokasi terdampak dengan pasokan logistik yang sangat terbatas. Bencana ini juga telah menyebabkan banyak korban jiwa, ribuan rumah rusak, serta ribuan warga mengungsi. 

Di tengah kritik terhadap metode penyaluran bantuan, aparat dan pemerintah daerah terus berupaya memperbaiki cara distribusi. Selain bantuan udara, berbagai pihak juga mengerahkan upaya membuka kembali akses jalur darat dan menambah titik distribusi logistik melalui sungai atau rute alternatif begitu memungkinkan. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan kerusakan bantuan dan memastikan setiap warga terdampak dapat memperoleh kebutuhan dasar mereka secara layak.

Masyarakat berharap ke depan penyaluran bantuan bisa lebih efisien dan menghormati kebutuhan warga. Meski niat awal adalah mempercepat bantuan bagi mereka yang benar-benar terisolasi, insiden beras yang berceceran di tanah ini menjadi peringatan penting akan tantangan teknis di lapangan serta pentingnya koordinasi yang lebih baik antar instansi. 



Share