Skip to main content
FOTO: Pexels
FOTO: Pexels

Suka Beli Buku Baru Tapi Jarang Baca? Nggak Masalah Kok, Ini Alasannya!

By Salma Fauziah
FOTO: Pexels
FOTO: Pexels

Suka Beli Buku Baru Tapi Jarang Baca? Nggak Masalah Kok, Ini Alasannya!

By Salma Fauziah

 

Membaca buku sudah menjadi hobi banyak orang sejak lama. Biasanya, orang yang gemar membaca juga memiliki koleksi buku yang beragam. Namun, menariknya, ada perbedaan antara mereka yang benar-benar menikmati membaca dengan mereka yang sekadar mengoleksi buku tanpa sempat membacanya. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Kenapa kita suka mengoleksi buku tanpa membacanya?

Sebenarnya, saat membeli sebuah buku, kita pasti tertarik untuk membacanya. Namun, berbagai alasan sering kali membuat buku tersebut hanya menumpuk di rak tanpa tersentuh. Bahkan, tidak jarang plastik pembungkusnya pun belum terbuka, sementara kita sudah membeli buku baru lagi.

Menurut Vocal Media, banyak orang membeli buku bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga sebagai bentuk representasi diri. Buku yang dipajang di rak bisa mencerminkan minat, nilai, dan pengetahuan kita. Baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain yang melihat koleksi tersebut. 

Seperti yang dibahas dalam buku Adam Ruins Everything, memiliki buku tertentu dapat mengingatkan kita pada minat dan aspirasi pribadi, sehingga memotivasi kita untuk terus belajar dan berkembang.

Tidak ada yang salah dengan membeli buku hanya untuk dijadikan dekorasi. Selain memberikan nilai estetika, koleksi buku yang belum dibaca juga bisa memberikan manfaat tersendiri. Kehadiran buku-buku tersebut dapat menjadi pengingat bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui, sehingga mendorong kita untuk terus mencari ilmu. 

Tentu saja, membaca buku tetap penting karena memberikan banyak manfaat, tetapi memiliki buku yang belum terbaca bukan berarti buku tersebut tidak memiliki nilai sama sekali.

Istilah tsundoku dari Jepang

Di Jepang, ada istilah khusus untuk kebiasaan mengoleksi buku tanpa membacanya, yaitu tsundoku. Istilah ini sudah ada sejak 1879 dan pertama kali digunakan secara satir dalam sebuah teks yang menggambarkan seorang guru yang memiliki banyak buku tetapi tidak membacanya.

Meskipun terdengar seperti kritik, sebenarnya tsundoku di Jepang tidak memiliki konotasi negatif. Banyak orang yang merasa wajar memiliki koleksi buku yang belum dibaca karena niat awal membeli buku adalah untuk memperkaya wawasan, meskipun belum sempat membacanya.

Tidak perlu merasa bersalah 

Membeli buku menandakan bahwa kita tertarik untuk belajar dari dunia yang diciptakan oleh para penulis. Jika kita tidak sempat membaca semua buku yang dimiliki, itu bukanlah kesalahan besar.

Jika dipikirkan kembali, banyak barang yang kita miliki juga tidak selalu digunakan secara maksimal. Pakaian yang kita beli tidak semuanya sering dipakai, sofa di rumah pun jarang sepenuhnya diduduki. Begitu pula dengan buku. Tidak semua harus langsung dibaca, tetapi kehadirannya tetap memberikan manfaat.

Selain itu, membeli buku juga berdampak lebih luas. Setiap pembelian menunjukkan dukungan kita terhadap penulis, editor, dan penerbit yang telah bekerja keras untuk menghadirkan karya tersebut. Selain itu, buku yang kita beli hari ini bisa menjadi bacaan menarik di masa depan, ketika kita memiliki waktu dan ketertarikan yang lebih besar untuk membacanya.

Jadi, jika kita memiliki banyak buku yang belum terbaca, tidak perlu merasa bersalah. Selama ada niat untuk terus belajar dan membaca di waktu yang tepat, koleksi buku tersebut tetap memiliki nilai dan makna tersendiri.



Share