Stop Pakai Polyester! Bikin Keringetan, Bau, dan Gatal di Iklim Tropis
Stop Pakai Polyester! Bikin Keringetan, Bau, dan Gatal di Iklim Tropis
Di dunia ini ada berbagai jenis kain yang bisa digunakan untuk pakaian. Namun, di Indonesia, negara dengan iklim tropis yang panas, justru kain polyester menjadi salah satu yang paling banyak dipakai. Hal ini cukup ironis, mengingat polyester sebenarnya kurang cocok untuk cuaca di sini. Kenapa begitu? Simak alasannya berikut ini.
Tidak cocok untuk iklim tropis
Belakangan, edukasi mengenai ketidakcocokan polyester di Indonesia kembali ramai dibahas di media sosial. Seorang pengguna X, @Dyanasthasia, mengungkapkan keresahannya dengan mengatakan:
"POLYESTER.... polyester....... polyester.... di negara tropis ini... Kata gue musnahkan kewajiban pake baju harus formal dan kita semua ayo pake bahan rayon, katun, viscose, dan linen ONLY!!! Kenapa harus keliatan kaku bin necis sih.. GERAH... BAU KETEK.."
Seperti yang dikatakan Dyan, polyester memang cenderung menahan panas. Akibatnya, saat dipakai, bahan ini membuat tubuh lebih cepat gerah dan berkeringat. Keringat yang terperangkap bisa menyebabkan bau badan lebih mudah muncul. Meski demikian, polyester tetap menjadi primadona di industri tekstil Indonesia karena harganya yang murah, perawatannya mudah, dan awet.
Dari mana asal polyester?
Polyester pertama kali ditemukan oleh dua ahli kimia asal Inggris, John Rex Whinfield dan James Tennant Dickson, pada tahun 1941. Namun, baru pada dekade 1970-an bahan ini mulai digunakan secara masif. Utamanya karena sifatnya yang murah dan tahan lama.
Kini, polyester menjadi salah satu pemain utama dalam industri pakaian cepat (fast fashion). Produksi polyester terus meningkat setiap tahunnya. Melansir The Sustainable Fashion, di tahun 2018, polyester menyumbang 52% dari total produksi serat global, dengan jumlah produksi mencapai 55 juta metrik ton per tahun. Pada tahun 2020, angka ini meningkat menjadi 57,1 juta metrik ton.
Bahaya bagi kulit kita
Selain tidak nyaman dikenakan di cuaca panas, polyester juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan kulit. Berbeda dengan kain alami seperti katun, polyester memiliki tekstur yang sering kali terasa seperti plastik. Semakin rendah kualitas polyesternya, semakin mirip pula dengan plastik.
Polyester tidak menyerap keringat dengan baik, sehingga membuat kulit terasa lengket dan gerah. Lebih parahnya lagi, polyester dapat memicu iritasi dan masalah kulit seperti eksim atau dermatitis. Sifatnya yang tidak bisa bernapas (non-breathable) menyebabkan keringat dan kelembapan terjebak di dalam kain,mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur. Akibatnya, kulit bisa mengalami gatal, iritasi, hingga peradangan.
Merusak lingkungan
Dampak buruk polyester tidak hanya dirasakan oleh tubuh, tetapi juga oleh lingkungan. Menurut ulasan Fabricated Closet, setiap kali pakaian berbahan polyester dicuci, serat-serat mikro plastik yang sangat kecil terlepas dan masuk ke dalam air limbah. Sayangnya, serat ini terlalu kecil untuk disaring oleh instalasi pengolahan air limbah, sehingga berakhir di sungai, danau, bahkan laut.
Mikroplastik yang mencemari air dapat berdampak buruk bagi kehidupan laut. Ketika makhluk laut tidak sengaja mengonsumsinya, mikroplastik ini bisa masuk ke rantai makanan dan akhirnya sampai ke tubuh manusia. Meski penelitian tentang dampak jangka panjang mikroplastik bagi kesehatan manusia masih terus dilakukan, para ilmuwan telah mengkhawatirkan potensi risikonya.
Meski polyester menawarkan harga yang lebih murah dan perawatan yang mudah, bahan ini memiliki banyak kekurangan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di negara tropis seperti Indonesia. Jika ingin lebih nyaman dan sehat, ada baiknya beralih ke bahan-bahan alami seperti katun, linen, viscose, atau rayon.