Skip to main content

Kenapa Orang Senang Menonton Film Horor?

By Christian Noven

Kenapa Orang Senang Menonton Film Horor?

By Christian Noven

Film horor telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya populer global, termasuk di Indonesia.

Karya-karya seperti "KKN di Desa Penari" karya Awi Suryadi dan "Pengabdi Setan 2: Communion" oleh Joko Anwar dari tahun 2022 menunjukkan betapa kuatnya daya tarik genre ini, meskipun banyak yang skeptis terhadap dampaknya.

Meskipun film horor kerap diidentikkan dengan ketegangan dan kengerian, ada paradoks menarik yang menyertainya. Film horor sering kali dianggap sebagai pelarian dari realitas dan bentuk hiburan yang menyenangkan bagi sebagian orang. Lalu, apa sebenarnya yang membuat seseorang merasa bahagia saat menyaksikan film horor, meski sering kali dihadapkan pada tema depresif dan menakutkan?

Rangsangan Emosional dan Sensasi Fisiologis

Menurut Dionisius Marlon Ayofi, mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang juga merupakan penggemar film horor, daya tarik utama dari genre ini terletak pada unsur misteri yang khas. Dion menganggap bahwa film horor yang baik tidak hanya bergantung pada jumpscare atau adegan berdarah, tetapi juga pada efek suara, sudut pandang karakter, dan latar belakang yang mendukung plot. Dengan demikian, pengalaman menonton bisa terasa lebih mendalam dan menggugah rasa penasaran.

Menonton film horor memberikan rangsangan emosional yang kompleks. Saat terpapar adegan yang menakutkan, tubuh manusia akan merespons dengan peningkatan adrenalin, yang dapat menyebabkan reaksi fisiologis seperti peningkatan detak jantung dan napas yang lebih cepat. Ini adalah bentuk hiburan visceral yang merangsang emosi dasar kita—marah, jijik, sedih, takut, dan bahagia.

Ketika menghadapi jumpscare atau momen-momen menegangkan, reaksi spontan seperti menutup mata, berteriak, atau bahkan tertawa dapat memicu pelepasan endorfin, hormon yang terkait dengan perasaan bahagia. Endorfin ini dapat menetralkan dampak negatif dari ketegangan dan ketakutan, menciptakan sensasi yang menyenangkan meskipun film tersebut memicu stres.

Perspektif Psikologis tentang Film Horor

Cindy Rahma Budiman, seorang pakar psikologi dari Universitas Diponegoro, menjelaskan bahwa menonton film horor melibatkan dua sisi emosional yang bertentangan. Di satu sisi, ada kepuasan dan kesenangan yang dirasakan ketika film berakhir, dan di sisi lain, terdapat ketakutan dan kecemasan selama film berlangsung. Cindy menjelaskan bahwa ketakutan yang dialami saat menonton film horor dapat memicu pelepasan hormon adrenalin, yang meningkatkan reaksi fisiologis seperti denyut jantung yang cepat dan pernapasan yang lebih berat. Ini pada gilirannya dapat membuat pengalaman menonton menjadi lebih intens dan memuaskan secara emosional.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada tahun 2019 oleh Zilman mengungkapkan bahwa pengalaman ketegangan dalam film horor dapat berubah menjadi euforia saat film berakhir. Selain itu, tubuh manusia secara otomatis masuk ke dalam mode "flight or fight" saat menghadapi situasi menakutkan, yang meningkatkan kewaspadaan dan ketegangan. Setelah film berakhir dan adrenalin menurun, efek ini dapat menghasilkan rasa puas dan relaksasi terapeutik.

Film horor juga menawarkan kesempatan untuk menghadapi dan mengontrol ketakutan kita, yang sering kali tersembunyi dalam alam bawah sadar. Penonton dapat memilih untuk terus menonton meski merasa takut atau berhenti sebelum akhir film. Ini memberikan rasa kontrol terhadap ketakutan yang mereka hadapi.

Potensi Dampak Negatif dari Menonton Film Horor

Namun, tidak semua orang merasakan dampak positif dari menonton film horor. Cindy mengingatkan bahwa konsumsi film horor yang berlebihan dapat memiliki efek negatif pada kesehatan mental dan fisik. Hormon adrenalin yang meningkat secara berlebihan dapat menyebabkan sakit kepala, pandangan kabur, tekanan darah tinggi, gangguan tidur, gelisah, dan kemarahan. Penelitian yang dipublikasikan oleh Sparks dalam jurnal Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa sebagian wanita dan pria melaporkan ketakutan yang berkepanjangan setelah menonton film horor, termasuk gangguan tidur dan masalah makan.

Lebih lanjut, penelitian oleh Ballon dan Leszcz mengidentifikasi fenomena "neurosis sinematik," di mana paparan berlebihan terhadap film horor dapat menyebabkan stres abnormal dan memerlukan intervensi psikologis. Kondisi ini terjadi ketika individu kehilangan kontrol atas pikiran dan emosi mereka, dan ketakutan yang dialami saat menonton film horor berlanjut hingga menimbulkan dampak negatif yang lebih besar.

Menonton Horor dengan Bijak

Bagi mereka yang mempertimbangkan untuk menonton film horor, Cindy menyarankan agar setiap orang memahami kondisi mental dan fisik mereka terlebih dahulu. Jika tubuh dan pikiran belum siap untuk menghadapi rangsangan menegangkan, lebih baik memilih genre film lain. Hal ini penting untuk mencegah dampak buruk pada kesehatan mental dan fisik.

Meskipun film horor dirancang untuk membangkitkan ketakutan, genre ini juga memiliki dampak yang beragam pada penontonnya. Bagi sebagian orang, pengalaman menonton horor bisa menjadi bentuk hiburan yang memuaskan dan menyenangkan, sementara bagi yang lain, efeknya bisa lebih merugikan. Oleh karena itu, penting untuk bijak dalam memilih film horor dan mempertimbangkan dampaknya pada kesehatan psikologis dan fisik.

Mengelola kesehatan mental dan fisik saat menonton film horor adalah langkah penting untuk memastikan bahwa pengalaman tersebut tetap menyenangkan dan tidak menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan.


Tags: Kesehatan, Film, Horor

Share