Skip to main content
Ondel-ondel menjadi salah satu kebudayaan Betawi yang mulai kehilangan maknanya (Foto: Ruben Sukatendel/Unsplash
Ondel-ondel menjadi salah satu kebudayaan Betawi yang mulai kehilangan maknanya (Foto: Ruben Sukatendel/Unsplash

Budaya Betawi: Identitas Jakarta yang Terancam Punah

By Raihan Atha
Ondel-ondel menjadi salah satu kebudayaan Betawi yang mulai kehilangan maknanya (Foto: Ruben Sukatendel/Unsplash
Ondel-ondel menjadi salah satu kebudayaan Betawi yang mulai kehilangan maknanya (Foto: Ruben Sukatendel/Unsplash

Budaya Betawi: Identitas Jakarta yang Terancam Punah

By Raihan Atha

Indonesia memiliki keberagaman budaya yang patut kita syukuri. Mulai dari pakaian, musik, hingga permainan memiliki ciri khas yang berbeda-beda tergantung wilayahnya. Tak terkecuali Jakarta dengan suku aslinya, Suku Betawi.

Namun, agaknya kebudayaan Betawi yang menjadi identitas Jakarta perlahan mulai sirna. Kebudayaan Betawi seolah menjadi hal asing di tanah kelahirannya. Menjadikannya eksklusif untuk acara tertentu saja dan bukan sebagai bagian dari keseharian masyarakat.

Tak hanya faktor internal, beragam faktor eksternal menjadi pemicu mengapa kebudayaan Betawi perlahan tergerus zaman.

Sebagai kota yang pernah menjadi Ibu Kota Negara Indonesia ini (sekarang Daerah Khusus Jakarta atau DKJ) membuat Jakarta menjadi pusat perkembangan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tak ayal banyak informasi dan kebudayan luar yang perlahan mengendap menjadi keseharian warga. Budaya luar yang dianggap lebih modern dan kekinian menjadi sebab mengapa kebudayaan Betawi perlahan mulai ditinggalkan.

Tak hanya itu, ramainya masyarakat luar Jakarta dengan berbagai kebudayaan beradu nasib di Jakarta, menjadikan budaya Betawi tersisihkan. Contohnya suku Jawa, suku Sunda, suku Batak, dan berbagai suku lainnya dari luar pulau jawa. Para tulang punggung keluarga ini menetap dan menciptakan komunitasnya sendiri. Maka adalah hal yang wajar jika menjamurnya komunitas budaya lain menjadi sebab budaya Betawi tenggelam.

Modernisasi juga jadi faktor lain mengapa budaya Betawi mendekati kepunahan. Pembangunan-pembangunan gedung pencakar langit menggantikan kampung adat dengan beragam budaya Betawi di dalamnya. Revitalisasi yang terjadi di setiap sudut kota Jakarta membuat peninggalan adat hilang tak berbekas.

Berbagai langkah preventif tentu telah diambil. Mulai dari pembentukan payung hukum untuk melestarikan budaya Betawi seperti yang tertuang di Perda No. 4 tahun 2015, memasukkan kurikulum lokal seperti pada mapel PLBJ (Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta), hingga promosi kebudayaan dalam berbagai event yang ada. Namun, semua itu masih kurang dalam membangun benteng pertahanan dari hilangnya budaya Betawi.

Mungkin dari kita ada yang bertanya-tanya, seberapa pentingkah pelestarian budaya ini? Jawabannya tergantung dari mana sudut pandang kita melihat.

Dalam banyak hal, budaya telah menjadi identitas bagi diri seseorang. Orang yang berbahasa Jawa bisa disimpulkan ia dari suku Jawa. Kebanyakan kebudayaan juga memiliki nilai positif seperti gotong royong dan peduli sesama.

Salah satu kebudayaan Betawi yang masih kental dan menjadi identitas warga Jakarta yaitu penggunaan sapaan ‘lu’ untuk ‘Anda’ dan ‘gue’ untuk ‘saya’. Mereka yang lugas dalam menggunakan bahasa ini bisa diartikan berasal dari Jakarta, bahkan jika mereka merantau ke daerah lain.

Sayangnya, itu sangat terbatas dalam membentuk identitas warga Jakarta. Tidak ada hal spesial yang bisa ditonjolkan jika disandingkan dengan suku-suku lainnya. Efeknya akan mengaburkan identitas warga Jakarta–terkhusus suku Betawi.

Perlu adanya langkah serius dari berbagai kalangan terutama masyarakat asli Jakarta agar kepunahan yang menghantui budaya Betawi tidak akan pernah terjadi. Beberapa solusi yang bisa dilakukan yaitu dengan mengenalkan dan melestarikan kebudayaan Betawi. Pemerintah bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mempertahankan kekentalan budaya Betawi yang ada.

Tidak hanya di lingkup Jakarta dan sekitarnya, kebudayaan Betawi juga perlu diperkenalkan di daerah-daerah lain. Contohnya melalui makanan kerak telor dan soto betawi.

Menggandeng budaya modern juga menjadi langkah lain yang dinilai cukup baik. Misalnya menggabungkan gambang kromong dengan jazz. Atau membuat permainan tradisional yang menarik dengan teknologi digital.

Terlepas dari itu semua pada akhirnya akan kembali ke diri kita masing-masing. Apakah kita mau melestarikan kebudayaan yang dibentuk oleh nenek moyang kita atau rela melepaskannya begitu saja demi hal yang lebih ‘nyaman’.



Share