Gultik Jakarta Jadi Destinasi Nostalgia Wisata Kuliner Budaya
Gultik Jakarta Jadi Destinasi Nostalgia Wisata Kuliner Budaya
Kuliner 'Gultik' masih awam di beberapa masyarakat luar Jakarta. Sebagian orang bahkan kerap mengira gultik adalah singkatan dari “Gulai Itik”. Sebenarnya gultik dimaksud adalah “gulai tikungan” karena memiliki tempat yang strategis berada di tikungan jalan, serta menyajikan makanan gulai.
Gultik menjadi salah satu destinasi makanan para kawula muda, dengan porsi yang kecil dan harga terjangkau menjadi waktu yang tepat untuk makan di malam hari bersama teman nongkrong. Gultik di Jakarta terkenal berada di daerah Blok-M. Daerah Blok-M banyak spot kuliner yang bisa dijajaki tetapi gultik menjadi tempat favorite para anak muda untuk sekedar makan dan mengobrol bersama teman.
Menu Gultik disajikan dalam ukuran mini dengan nasi hangat, gulai daging, biasanya ditambahkan kerupuk, bawang goreng, dan sambal sebagai pelengkap. Penikmat gultik biasanya tidak cukup satu porsi. Bahkan saat ini banyak dijumpai anak muda membuat tren ditiktok “seberapa banyak kamu makan gultik” dan mayoritas tiap orang minimal makan 2-3 porsi gultik, bahkan ada sampai lebih 10 porsi tiap orang.
Gulai yang disajikan juga memiliki cita rasa khas tersendiri. Rasa kuah santan yang ringan dan rempah-rempah kuat menjadi nilai dan daya tarik tersendiri. Harga yang ditawarkan biasanya sekitar Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000 per porsi. Namun, tergantung dari lauk yang dipakai, atau isian gulai yang diinginkan. Gultik identik isian full daging, tetapi mulai mengikuti perkembangan jaman serta mendengarkan request dari pembeli, penjual gultik menjual versi selain daging, seperti jeroan, atau dapat dicampur keduanya.
Rasa yang otentik dari gulai ditambah menikmati pada waktu malam hari dengan suasana tikungan pinggir jalan, menjadi ciri khas gulai tikungan selalu ramai peminat. Nama yang juga mudah diingat menjadi nilai plus dari makanan berbahan dasar santan ini.
Usaha gultik ini merupakan usaha kuliner yang menjanjikan, bahkan kota lain seperti Yogyakarta sudah banyak membuka gultik di sekitar daerah Kota Yogyakarta. Jakarta menginspirasi para pengusaha dari kota lain untuk membuka kuliner gultik dengan konsep target pasar yang dapat menjangkau semua kalangan, dari kalangan bawah hingga atas. Menjual gultik bukan hanya menjual makanan tetapi esensi budaya nostalgia yang diberikan saat menikmati gultik malam hari bersama teman lama, teman baru, keluarga, ataupun sendiri menikmati indahnya malam kota di tikungan jalan.