Skip to main content
FOTO: Tone Deaf Influencer (Pinterest: thepiano.sg)
FOTO: Tone Deaf Influencer (Pinterest: thepiano.sg)

Ngerasa Dulu, Baru Ngomong”: Kenalan Sama ‘Tone‑Deaf’ di Sosial Media

By Putri Nurbaiti
FOTO: Tone Deaf Influencer (Pinterest: thepiano.sg)
FOTO: Tone Deaf Influencer (Pinterest: thepiano.sg)

Ngerasa Dulu, Baru Ngomong”: Kenalan Sama ‘Tone‑Deaf’ di Sosial Media

By Putri Nurbaiti

Pernah nggak sih kamu lihat posting-an influencer atau brand yang kayaknya lagi salah timing banget? Misalnya lagi ada krisis ekonomi, tapi mereka dengan santainya pamer hidup glamor atau malah iklan produk super mahal. Nah, kondisi kayak gini biasa disebut sebagai “tone-deaf” di sosial media. Istilah ini awalnya berarti “tuli nada” di dunia musik, tapi di internet dipakai buat nyindir orang atau brand yang terkesan nggak peka sama situasi sekitar. Bahasa gampangnya: mereka posting sesuatu yang bikin publik merasa, “kok nggak nyambung banget sama keadaan sekarang?”

Contoh kasusnya cukup banyak. Salah satunya datang dari Brooke Hogan, influencer dengan ratusan ribu followers. Dia pernah pamer detail penerbangan mewah di kelas bisnis Emirates, lengkap dengan champagne dan kursi tidur. Sayangnya, posting-an itu muncul pas banyak orang sedang struggle dengan biaya hidup. Alhasil, banyak followers yang merasa konten tersebut “out of touch” dan unfollow dia. Contoh lain datang dari Meg DeAngelis yang ngepost selfie sambil menyinggung kebakaran hebat di Los Angeles. Bukannya menuai simpati, unggahan itu malah bikin netizen geram karena dianggap tidak tulus dan terlalu ringan menghadapi tragedi serius. Bahkan ada juga influencer lain yang tega bikin konten dance dan jualan suplemen di dekat area kebakaran. Bayangin, latarnya tragedi, tapi mereka malah asyik cari engagement. Reaksi publik? Nggak heran kalau mereka dicap “tone-deaf”.

Fenomena ini bukan cuma menimpa influencer, tapi juga brand besar. Contohnya White Glo, sebuah merek produk pemutih gigi yang pernah memasang slogan “Make the white choice” di transportasi umum. Maksudnya mungkin sederhana, mengajak orang pilih produk mereka. Tapi netizen melihatnya beda. Slogan itu dianggap menyinggung isu rasial dan bikin ramai protes di media sosial. Akhirnya, pihak brand buru-buru menarik iklan dan meminta maaf. Dari kasus ini, kelihatan banget kalau tone-deaf bisa bikin reputasi rusak dalam hitungan jam.

Kenapa tone-deaf ini bahaya? Pertama, karena bisa langsung merusak reputasi. Netizen mungkin cepat lupa sama konten biasa, tapi kalau sudah soal konten yang salah timing atau nggak peka, mereka bakal inget lama. Kedua, hal ini bisa bikin followers kehilangan rasa percaya. Saat mereka merasa nggak dipedulikan, biasanya unfollow jadi pilihan paling cepat. Ketiga, posting-an yang salah waktu bisa memicu “panik sosial” di internet, bikin orang makin skeptis sama influencer maupun brand yang dianggap dangkal.

Biar nggak kejebak jadi tone-deaf, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Paling utama, peka terhadap konteks. Jangan asal posting tanpa lihat dulu apa yang sedang terjadi di sekitar. Kalau lagi ada bencana, krisis, atau isu sensitif, sebaiknya tahan dulu konten yang sifatnya pamer atau promosi. Kedua, biasakan bikin konten dengan empati. Banyak pakar komunikasi sosial media menyarankan komposisi 80% konten bermanfaat dan supportive, baru sisanya 20% promosi. Ketiga, selalu dengarkan kritik dan cepat tanggap. Kalau sudah terlanjur salah, segera tarik konten dan minta maaf dengan tulus. Terakhir, libatkan orang dengan latar belakang berbeda dalam tim kreatif. Perspektif yang beragam bisa mencegah munculnya ide konten yang kelewat nggak peka.

Jadi, “tone-deaf” bukan cuma istilah keren yang sering muncul di sosmed, tapi sebuah pengingat penting buat siapa pun yang suka berbagi konten online. Sebelum posting, coba tanya ke diri sendiri: “Posting-an ini bikin orang merasa lebih baik, atau malah bikin tambah kesal?” Kalau jawabannya meragukan, mungkin lebih baik simpan dulu. Karena di dunia digital yang serba cepat ini, satu unggahan bisa jadi tiket menuju reputasi bagus, atau justru jadi bumerang yang bikin nama hancur.



Share