Dark Jokes: Hiburan atau Hinaan Tersembunyi?
Dark Jokes: Hiburan atau Hinaan Tersembunyi?
Pernahkah kalian melihat candaan yang isinya sangat sensitif? Atau kalian pernah mendengar lelucon yang menyakiti hati? Mungkin saja apa yang kalian dengar adalah dark jokes.
Dark jokes (candaan gelap) atau punya nama lain candaan hitam dan candaan tiang gantung, merupakan salah satu jenis candaan dimana isu yang dibahas adalah isu sensitif atau tabu. Candaan ini tak jarang dapat menyinggung perasaan seseorang.
Dark jokes juga seringkali mengandung kejutan-kejutan yang tak terduga. Dikira membahas tentang A, tau-taunya tentang B. Selain itu, dark jokes bersifat subjektif. Sesuatu yang dianggap lucu oleh seseorang belum tentu lucu bagi orang yang lain.
Di media sosial tak jarang dark jokes disampaikan sebagai pereda ketegangan dari isu yang mencuat. Meski seringkali konteks yang disampaikan bukan lagi bagian dari dark jokes dan jatuh pada penghinaan.
Biar Anda tidak salah kaprah mengenai dark jokes, mari kita bahas pelan-pelan.
Kenapa dark jokes bisa muncul?
Seperti pengenalan tadi, dark jokes mencoba membahas isu yang sensitif atau bahkan tabu di masyarakat. Isu ini bisa berupa kematian, sakit, kegagalan, perang, kejahatan, dan sebagainya yang bisa melukai perasaan pihak tertentu.
Beberapa pihak menggunakan dark jokes sebagai pelepas emosi dari permasalahan yang dialaminya. Misalnya ada orang yang kehilangan orang tuanya lalu berkelakar: “Seenggaknya bapak nggak akan ngorok lagi, soalnya mulutnya kesumpel tanah.”
Hal serupa juga bisa dilakukan ketika mengalami kegagalan hidup, kehilangan anggota kaki, atau terkena kasus begal. Salah satu yang sering muncul mengenai kasus kejahatan yaitu: “Jangan ngelawan begal, nanti kamu yang dipenjara.”
Dengan melontarkan dark jokes, seseorang akan merasakan kedekatan yang sama dengan orang lain yang juga merasakan perasaan tersebut. Ia akan berusaha melihat sisi positif dari suatu permasalahan dengan membumbuinya menggunakan sedikit tawa.
Menurut penelitian di jurnal Cognitive Processing pada 2017, mereka yang menikmati dark humour memiliki IQ yang lebih besar, menunjukkan agresi yang rendah, dan lebih efektif menahan perasaan negatif daripada mereka yang berpaling dari dark humour.
Selain itu, dark jokes juga bisa menjadi alat mengangkat isu penting agar para pendengarnya mau berpikir. Misal dark jokes berbunyi: “Kenapa orang Indonesia banyak yang memeriksakan gigi ke Singapura? Karena cuma di Singapura mereka bisa buka mulut.” Jokes ini mengindikasikan di Indonesia warganya tak bisa bersuara dan harus nurut apa kata penguasa (ini tidak benar–sepertinya–soalnya saya masih bisa nulis artikel ini hehehe).
Harus berhati-hati ketika melontarkan dark jokes agar tidak terjebak
Meski tidak ada aturan yang baku, dark jokes tidak bisa dilontarkan begitu saja di semua situasi. Seseorang harus paham mengenai audiens, tempat, dan isi dari dark jokes.
Hal pertama yang bisa diperhatikan yaitu pengalaman dalam melewati isu tersebut. Jika seseorang hendak berkelakar dark jokes mengenai bagian tubuhnya yang cacat, sudah tentu ia harus merasakan hal tersebut. Ini menandakan dirinya telah menerima kecacatan yang dialaminya dan siap menghibur banyak mata.
Jika dia tidak mengalami tubuh cacat, lalu berusaha mengutarakan dark jokes tentang tubuh cacat, ditakutkan ini jatuh pada penghinaan terhadap mereka yang mengalami cacat pada tubuhnya.
Hal yang sama juga berlaku pada isu-isu lain. Karenanya pengalaman pelawak perlu dipertimbangkan sebelum pelawak melontarkan dark jokes.
Kedua, waktu kejadian semakin jauh semakin baik. Jika hendak berkelakar tentang suatu peristiwa mengerikan dan memakan korban jiwa, maka semakin jauh waktunya semakin baik. Meski tidak melulu, rentang waktu yang jauh antara sekarang dengan waktu kejadian membuat banyak orang telah menerima hal tersebut dan menjadikannya pelajaran.
Contohnya ketika berkelakar tentang 9/11 yang memakan korban jiwa pada 2001 silam. Karena 23 tahun sudah berlalu, tragedi ini menjadi fakta yang telah diterima banyak orang dan merasa bisa melaluinya dengan komedi-komedi gelap. Meski masih ada pihak yang merasa tersinggung, setidaknya itu hanya sebagian kecil di antara suara tawa yang menggelegar.
Ketiga, kenali audiens tempat candaan disampaikan. Kebanyakan dark jokes memang tidak bisa diterima mentah-mentah oleh sebagian orang karena sifatnya yang subjektif. Barang tentu satu atau dua orang merasa tersinggung dengan candaan yang disampaikan. Untuk itu perlu mengetahui karakteristik audiens jika tujuannya untuk memecah gelak tawa.
Contohnya, berkelakar tentang bobroknya institusi pemerintahan di tengah-tengah audiens dari pihak pemerintah. Dalam waktu tertentu–lomba roasting misalnya–mampu mendorong tawa dari audiensnya. Akan tetapi, jika acara yang diangkat adalah acara serius, maka dark jokes bisa menjadi senjata makan tuan yang berbuntut masalah serius.
Karenanya adalah hal yang salah menggeneralisir semua circle dengan dark jokes yang sama, karena tidak semuanya mampu menerima hal tersebut dengan tawaan yang tulus.
Referensi:
https://nautil.us/when-does-dark-humor-stop-being-funny-235901/
https://www.psychologs.com/dark-humour-the-fine-line-between-comedy-and-insensitivity/
https://patient.info/news-and-features/why-do-we-use-dark-humour-as-a-coping-mechanism
https://pathwayshealth.org/dont-be-too-quick-to-dismiss-dark-humor/