Skip to main content
Tupperware bangkrut setelah 77 tahun (Tupperware)
Tupperware bangkrut setelah 77 tahun (Tupperware)

Tupperware Bangkrut Setelah 77 Tahun

By Christian Noven
Tupperware bangkrut setelah 77 tahun (Tupperware)
Tupperware bangkrut setelah 77 tahun (Tupperware)

Tupperware Bangkrut Setelah 77 Tahun

By Christian Noven

Pada tanggal 17 September 2024, Tupperware resmi mengajukan kebangkrutan setelah perjalanan panjang dalam dunia bisnis yang dimulai sejak 1946. Tupperware, yang dikenal sebagai produsen wadah penyimpanan dan peralatan dapur, telah menjadi nama yang familiar di banyak rumah tangga, khususnya di kalangan perempuan.

Namun, tekanan ekonomi, perubahan pola konsumsi, dan tantangan internal membuat perusahaan ini tak mampu lagi bertahan di tengah persaingan global yang ketat.

Berdasarkan laporan, Tupperware mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 di Orlando, Florida, tempat perusahaan ini berbasis. Kebangkrutan ini diajukan setelah berbagai upaya revitalisasi bisnis tidak membuahkan hasil. Tupperware mengalami penurunan penjualan signifikan, bahkan setelah sempat bangkit selama pandemi Covid-19. Sayangnya, setelah pandemi mereda, permintaan akan produk-produk Tupperware kembali menurun drastis.

Laurie Goldman, Kepala Eksekutif Tupperware, menjelaskan bahwa kebangkrutan ini disebabkan oleh beberapa faktor utama, termasuk penurunan penjualan, kenaikan biaya bahan baku, tenaga kerja, dan pengiriman. Perusahaan telah berusaha keras untuk membalikkan keadaan, namun upaya tersebut tidak mampu mengatasi tekanan finansial yang terus membesar. Sebagai salah satu dampak kebangkrutan, Tupperware terpaksa menutup pabrik di South Carolina, Amerika Serikat, yang menyebabkan pemutusan hubungan kerja terhadap 148 karyawan. Selain itu, saham Tupperware juga anjlok drastis, hingga menyentuh angka 51 sen setelah kehilangan 74,5% dari nilainya pada tahun 2024.

Alasan Tupperware Bangkrut

Krisis yang dialami Tupperware tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi global, tetapi juga oleh masalah internal perusahaan. Tupperware gagal merespons perubahan dalam preferensi konsumen yang kini lebih peduli pada isu lingkungan, terutama terkait penggunaan plastik. Sebagai produsen wadah berbahan plastik, Tupperware menghadapi banyak kritik karena dianggap tidak sejalan dengan tren ramah lingkungan. Selain itu, inefisiensi internal turut memperparah kondisi keuangan perusahaan, yang sudah terpukul oleh lonjakan biaya produksi dan menurunnya permintaan pasar.

Perusahaan juga tidak berhasil menyesuaikan model bisnisnya dengan perkembangan zaman. Tupperware tetap mengandalkan model penjualan langsung—strategi yang dulu pernah sangat sukses melalui “Tupperware Party”—namun kini tidak lagi relevan di era digital, di mana belanja online dan promosi melalui media sosial mendominasi pasar.

Meskipun telah mengajukan kebangkrutan, Tupperware berencana untuk tetap beroperasi selama proses hukum berlangsung. Perusahaan ini juga tengah mencari persetujuan pengadilan untuk menjual aset-asetnya, dengan harapan ada pihak yang tertarik membeli dan menyelamatkan merek yang sudah begitu dikenal. Namun, tantangan yang dihadapi tidaklah kecil, terutama mengingat bahwa bisnis inti perusahaan telah kehilangan daya tarik di kalangan konsumen modern.

Keputusan untuk mengajukan kebangkrutan ini menjadi langkah terakhir setelah beberapa tahun penuh tantangan. Perusahaan tidak berhasil menemukan solusi untuk membalikkan penurunan penjualan yang sudah berlangsung selama beberapa kuartal, dan kondisi ekonomi makro yang semakin tidak stabil memperparah situasi.

Sebagai salah satu perusahaan ikonik, Tupperware memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Didirikan oleh Earl Tupper pada tahun 1946, Tupperware menawarkan inovasi revolusioner dalam bentuk wadah penyimpanan makanan berbahan plastik polietilen. Salah satu inovasi terbesar Tupperware adalah penutup kedap udara, yang memungkinkan makanan tetap segar lebih lama dan mencegah kebocoran. Penutup ini bahkan terinspirasi dari kaleng cat, salah satu produk yang digunakan Earl Tupper saat bekerja sama dengan perusahaan kimia besar, Dupont.

Selama beberapa dekade, produk Tupperware telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak orang. Bahkan di Indonesia, Tupperware sempat menjadi fenomena sosial di kalangan perempuan, dengan adanya arisan Tupperware sebagai ajang untuk membeli dan mengoleksi produk-produknya. Namun, inovasi yang dulu menjadi kekuatan utama Tupperware kini tampaknya tidak lagi cukup untuk mempertahankan perusahaan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.



Share 


Related articles