Tren Diet OMAD, Manfaat dan Risiko untuk Kesehatan
Tren Diet OMAD, Manfaat dan Risiko untuk Kesehatan
Dalam beberapa tahun terakhir, pola makan ekstrem One Meal A Day atau dikenal dengan singkatan OMAD semakin ramai diperbincangkan di kalangan pelaku diet dan komunitas kesehatan. Diet ini menuntut seseorang makan hanya satu kali dalam sehari, biasanya dalam jendela waktu sekitar satu jam, kemudian berpuasa selama sisa waktu lainnya. Konsepnya sederhana, tetapi dampaknya pada tubuh bisa jauh lebih kompleks.
Seiring meningkatnya minat terhadap gaya hidup sehat dan penurunan berat badan, diet OMAD sering dipromosikan sebagai metode cepat untuk mencapai tujuan itu. Beberapa pendukungnya menyebutkan bahwa one meal a day membantu menurunkan berat badan lebih cepat, meningkatkan fokus mental, bahkan membantu meningkatkan metabolisme. Namun pakar nutrisi menilai bukti ilmiah yang ada masih sangat terbatas dan tidak selalu menunjang klaim-klaim tersebut secara universal.
Menurut para ahli, prinsip diet OMAD tidak membatasi jenis makanan secara khusus jadi, secara teori kamu bisa memilih makanan apa pun selama itu dikonsumsi dalam satu kesempatan makan dalam sehari. Namun, pola ekstrem ini pada dasarnya mengarah pada pembatasan asupan kalori secara drastis, sehingga sebagian besar orang mengalami penurunan berat badan sebagai akibatnya. Tetapi penurunan berat badan tersebut sangat dipengaruhi oleh total kalori yang dikonsumsi dan bukan semata-mata dari makan hanya sekali sehari.
Selain potensi penurunan berat badan, ada beberapa efek lain yang dilaporkan, misalnya peningkatan rasa alert atau waspada selama fase puasa karena perubahan hormonal tertentu. Namun, efek tersebut tidak spesifik hanya pada diet OMAD dan juga bisa muncul pada bentuk puasa intermiten lainnya
Sementara itu, sejumlah risiko kesehatan yang perlu diperhatikan menjadi peringatan penting dari para profesional kesehatan. Studi dan artikel yang dikaji oleh banyak sumber medis menunjukkan beberapa potensi efek samping serius dari diet satu kali makan sehari, antara lain:
-
Sulit memenuhi kebutuhan nutrisi harian, karena hanya satu kali makan, sangat menantang untuk memasukkan semua vitamin, mineral, dan zat gizi penting yang diperlukan tubuh dalam satu porsi.
-
Lonjakan dan penurunan gula darah, jeda yang panjang tanpa makanan dapat menyebabkan gula darah turun drastis (hipoglikemia), terutama bagi penderita diabetes, atau lonjakan setelah makan besar.
-
Keluhan fisik sehari-hari, orang yang mencoba OMAD sering melaporkan rasa lapar ekstrem, lemas, pusing, energi rendah, iritabilitas, hingga gangguan pencernaan seperti sembelit.
-
Potensi peningkatan risiko kardiometabolik, beberapa temuan awal menunjukkan peningkatan tekanan darah dan kolesterol pada individu yang mengikuti pola makan sangat terbatas seperti OMAD.
Tidak hanya itu, diet ini juga dinilai sulit dipertahankan jangka panjang karena secara sosial dan biologis tubuh manusia terbiasa makan beberapa kali sehari, bukan hanya sekali. Ketika seseorang kembali ke pola makan normal setelah jangka waktu mengikuti OMAD, sering kali berat badan kembali naik atau bahkan lebih tinggi dari sebelumnya karena metabolic rebound.
Pakar nutrisi umumnya menyarankan agar individu yang mempertimbangkan OMAD untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi, terutama jika memiliki kondisi kesehatan seperti diabetes, gangguan jantung, atau sedang dalam masa pertumbuhan, kehamilan, atau menyusui.
Secara umum, meskipun diet OMAD bisa menawarkan beberapa manfaat tertentu seperti penurunan berat badan karena pembatasan kalori, banyak ahli kesehatan cenderung merekomendasikan pendekatan yang lebih seimbang: makan beberapa kali sehari dengan porsi seimbang dan nutrisi lengkap untuk mendukung kesehatan jangka panjang.