Mengenal 'Terowongan Silaturahmi' Istiqlal Katedral
Mengenal 'Terowongan Silaturahmi' Istiqlal Katedral
Terowongan Silaturahmi, yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral di Jakarta, bukan sekadar sebuah struktur fisik. Bangunan ini adalah simbol nyata dari persatuan, toleransi, dan keharmonisan antarumat beragama di Indonesia. Keberadaan terowongan ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang dianut oleh masyarakat Indonesia yang beragam, yang selalu berusaha menjaga kebersamaan dalam perbedaan.
Pada tanggal 5 September 2024, Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik Dunia dan kepala negara Vatikan, mengunjungi Masjid Istiqlal. Dalam kunjungannya tersebut, Paus melewati Terowongan Silaturahmi ini, sebuah momen yang sarat makna simbolis bagi hubungan antarumat beragama di Indonesia. Terowongan ini menjadi ruang di mana dialog antaragama dan pengalaman spiritual dapat terjalin lebih erat.
Pembangunan Terowongan Silaturahmi dimulai pada 15 Desember 2020 dan selesai pada 20 September 2021. Terowongan ini dibangun bersamaan dengan renovasi besar-besaran di Masjid Istiqlal. Tidak hanya sebagai jalur penyeberangan, terowongan ini dibangun dengan tujuan yang lebih mendalam—yakni sebagai simbol konkret toleransi dan hubungan harmonis antara umat Islam dan Kristen di Indonesia. Dengan biaya Rp37,3 miliar, terowongan ini tidak hanya berfungsi sebagai jalan penghubung, tetapi juga sebagai pengingat bahwa keharmonisan dalam keragaman adalah salah satu ciri khas bangsa Indonesia.
Terowongan yang memiliki panjang 28,3 meter, tinggi 3 meter, dan lebar 4,1 meter ini menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral. Terdapat sebuah parkiran di basement Masjid Istiqlal yang mampu menampung hingga 1.000 mobil, dan terowongan ini memungkinkan parkiran tersebut dapat digunakan bersama oleh jemaat kedua rumah ibadah tersebut. Pada hari Jumat, jamaah Masjid Istiqlal dapat memanfaatkan area parkir tersebut, sementara pada hari Minggu, jemaat Gereja Katedral bisa menggunakannya. Ini adalah salah satu bentuk praktis dari kebersamaan yang dibangun oleh kedua komunitas religius ini.
Banyak orang mengira bahwa terowongan ini berada di dalam Masjid Istiqlal. Namun, kenyataannya, terowongan ini dibangun di luar, tepat di depan gerbang utama masjid dan tembus hingga ke pintu masuk Gereja Katedral. Eksterior terowongan menggunakan material transparan yang memungkinkan pandangan ke arah Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral tetap terbuka. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap kedua bangunan ikonik yang merupakan cagar budaya dan bagian penting dari sejarah Indonesia. Interior terowongan ini pun dirancang senada dengan interior Masjid Istiqlal, menggunakan material marmer yang elegan dan mencerminkan kesederhanaan sekaligus keindahan.
Desain terowongan ini bukanlah pilihan pertama. Sebelumnya, sempat ada gagasan untuk membangun jembatan penyeberangan yang menghubungkan kedua rumah ibadah ini. Namun, setelah mempertimbangkan faktor keamanan dan keselamatan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akhirnya memutuskan untuk membangun terowongan bawah tanah. Terowongan ini tidak hanya aman bagi para pejalan kaki, tetapi juga memastikan keselamatan kedua bangunan bersejarah yang berdiri di atasnya, yaitu Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.
Masjid Istiqlal sendiri adalah salah satu simbol persatuan bangsa Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1961 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, dan menariknya, arsiteknya adalah seorang Nasrani bernama Frederich Silaban. Lokasi masjid ini yang berdampingan dengan Gereja Katedral tidaklah kebetulan, melainkan sebuah simbol dari harmoni dan toleransi antaragama di Indonesia. Gereja Katedral yang bergaya neo-gotik telah berdiri sejak zaman kolonial dan diresmikan pada tanggal 21 April 1901. Gereja ini sebelumnya pernah mengalami beberapa kali kerusakan dan pemugaran sebelum mencapai bentuknya yang sekarang.
Paus Fransiskus dalam kunjungannya menekankan pentingnya Terowongan Silaturahmi sebagai ruang yang memungkinkan pertemuan dan dialog antarumat beragama. Menurutnya, terowongan ini adalah simbol dari “pengalaman nyata persaudaraan dalam iring-iringan solidaritas, peziarahan suci.” Ucapan Paus ini menegaskan kembali bahwa terowongan tersebut bukan sekadar infrastruktur, tetapi juga tempat di mana nilai-nilai persaudaraan dan toleransi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keberadaan Terowongan Silaturahmi mengingatkan kita bahwa persatuan dan keharmonisan antarumat beragama bukanlah sekadar ide atau konsep, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan dalam tindakan nyata. Terowongan ini adalah contoh bagaimana Indonesia terus berupaya menjaga dan memperkuat nilai-nilai toleransi yang sudah lama menjadi bagian dari jati diri bangsa. Di tengah dunia yang kerap kali diwarnai oleh konflik, terowongan ini berdiri sebagai simbol harapan, bahwa melalui dialog, pemahaman, dan kerja sama, kita dapat menciptakan dunia yang lebih damai dan bersatu.