BPA Mengganggu Hormon Estrogen dan Kualitas Sperma, Ancaman Serius bagi Kesehatan Reproduksi
BPA Mengganggu Hormon Estrogen dan Kualitas Sperma, Ancaman Serius bagi Kesehatan Reproduksi
Dr I Made Oka Negara dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), menyebut kandungan yang ada pada BPA (Bisfenol A) dapat memengaruhi hormon estrogen dalam tubuh manusia.
“BPA ini kalau masuk ke tubuh, dia itu serupa positioningnya dengan estrogen. Dan pada akhirnya mengganggu si estrogen,” jelas Oka dalam seminar “BPA FREE: Perilaku Sehat, Reproduksi Sehat, Keluarga Sejahtera” bertempat di Hotel Amaroossa, Jakarta Selatan.
Estrogen sendiri merupakan hormon penting yang ada di tubuh manusia. Jika hormon ini terganggu akan menimbulkan risiko seperti pubertas dini hingga masalah kesuburan.
Oka menyebut, pubertas dini yang terjadi akan menyebabkan perubahan pada diri seseorang, terutama perempuan. Payudara dan pinggul bisa membesar lebih cepat sehingga dorongan seksual menjadi muncul.
“Kalau itu terjadi risiko lebih banyak. Prematuritas, kematian bayi, si ibu juga bisa meninggal pada waktu melahirkan.”
Oka menjelaskan pada laki-laki BPA akan memengaruhi kualitas sperma yang dimilikinya. Selain itu juga mampu menyebabkan masalah seperti ukuran penis kecil (micropenis).
Selain memengaruhi reproduksi seksual manusia, BPA juga meningkatkan respon inflamasi dalam tubuh. Akibatnya berbagai penyakit dapat bermunculan karena sel-sel dalam tubuh mengalami inflamasi dan rusak.
“Diabetes itu sebenarnya adalah proses inflamasi yang terjadi pada akhirnya merusak pembuluh darah, karena sel beta pankreas rusak,” ucapnya menjelaskan.
Berbagai penelitian terkait BPA memang baru menemukan efeknya di jangka pendek. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan akan ada efek jangka panjangnya. Salah satunya angka fertilitas perempuan saat ini yang mendekati 20%, berbanding jauh dengan zaman dahulu.
“Kalau ini dikonsumsi terus menerus, efeknya ke janin juga ada.”
Oka menegaskan efek BPA ini bukan tiba-tiba, melainkan akumulatif. Jadi, paparan BPA yang berlebihan akan menumpuk sehingga muncul efeknya di kemudian hari.
“Jika suatu negara ingin masyarakatnya maju dan sehat, BPA free must be a priority,” tutupnya pagi itu.