Berpikir Skeptis Agar Tidak Mudah Kena Tipu
Berpikir Skeptis Agar Tidak Mudah Kena Tipu
Cara berpikir skeptis seringkali dipandang negatif oleh sebagian orang. Mereka menganggap pemikiran skeptis sebagai sesuatu yang menghambat kemajuan. Ucapan-ucapan seperti, “jangan terlalu skeptis, ah!” seolah membenarkan bahwa skeptis adalah hal yang buruk.
Namun, pandangan skeptis tidak sepenuhnya buruk. Banyak sisi positif yang bisa kita ambil dengan berpikir skeptis. Salah satunya adalah terhindar dari penipuan.
Mengenal apa itu skeptis
KBBI mendefinisikan skeptis sebagai sikap ragu-ragu atau kurang percaya terhadap suatu hal. Kata ini diambil dari skeptisme atau skeptisisme yang berarti memandang segala sesuatu dengan tidak pasti dan harus dicurigai.
Seringkali pemikiran skeptis ini dihubungkan dengan pemikiran negatif. Meskipun pada dasarnya kedua pola pikir ini cukup berbeda.
Pemikiran negatif mengarahkan kita melihat sisi negatif atau buruknya dari suatu hal saja. Seseorang yang berpikiran negatif tidak percaya bahwa hal tersebut ada kebaikan di dalamnya. Pemikiran negatif sering kali tidak memiliki dasar yang kuat, meskipun tak jarang ada fakta-fakta yang mendukungnya. Biasanya pemikiran ini melibatkan sikap pesimisme dan perasaan emosional.
Sedangkan berpikir skeptis lebih cocok jika disandingkan dengan berpikir secara kritis. Mereka yang memiliki pemikiran skeptis akan berusaha mencari fakta pendukung dari suatu kejadian. Misalnya tentang bumi itu bulat atau datar. Orang yang skeptis akan mencari fakta yang mendukung salah satu teori. Jika dirasa fakta tersebut sejalan dengan pemikiran dan hatinya, tentu dia akan menerimanya.
Jenis-jenis skeptis
Ada beberapa jenis skeptis yang bisa kita petakan menurut pandangan dalam memercayai suatu hal.
Pertama ada Dogmatic Skepticism. Skeptisme jenis ini menganggap segala sesuatu di dunia tidak dapat diketahui kebenarannya. Mereka menganggap semua pengetahuan manusia sebagai hal yang keliru.
Kedua, Pyrrhonian Skepticism. Dasar dari skeptisme ini yaitu menentang segala hal yang belum pasti. Mereka menganggap segala sesuatu harus ada dasar penelitian yang mendukungnya. Penganut paham ini juga tidak memercayai penelitian yang hanya berlaku bagi sebagian orang saja. Sebuah penelitian seharusnya bersifat universal.
Ketiga, Empiricist Foundationalism. Paham ini melihat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman dan eksperimen yang menggunakan panca indra manusia. Karenanya, mereka percaya bahwa apa yang terlihat benar belum tentu benar bagi orang lain. Paham ini memercayai ilmu pengetahuan dan logika manusia tidak pasti benar.
Keempat, Rationalist Foundationalism. Sedikit berbeda dengan empiris, paham rasionalis mengutamakan logika dan akal dalam melihat kejadian yang ada. Mereka percaya bahwa segala hal yang logis itu bersifat pasti dan tidak dapat disangkal. Contoh paling sederhananya adalah matematika, dimana jawaban-jawaban bisa dicari menggunakan rumus yang ada.
Kelima, Authoritarianism. Paham ini menganggap kalau kebenaran yang pasti hanya bisa diketahui oleh segelintir orang saja. Contohnya tentang elit global yang dianggap mengatur dunia kita ini.
Menjadi skeptis itu baik, asal tidak kelewatan
Pada dasarnya, menjadi skeptis itu adalah hal yang baik dengan syarat tidak sampai kelewatan saja. Contohnya yaitu siap mengubah pandangan ketika disajikan fakta dan data.
Sesuai judul tulisan kali ini, dengan bersikap skeptis Anda akan terhindar dari apa yang namanya penipuan. Karena otak akan berpikir keras sebelum menyimpulkan suatu hal.
Misalnya, ada sebuah smartphone yang harga aslinya selangit tetapi dipasarkan dengan harga murah yang tak wajar. Bersikap skeptis membawa Anda pada kesimpulan, “too good to be true”. Yang akhirnya Anda akan mencoba mencari fakta-fakta penunjang, apakah benar ada barang semurah ini atau bentuk penipuan baru.
Atau beberapa penipuan lain seperti penipuan mama minta pulsa, install aplikasi bohongan yang mengatasnamakan bank, hingga praktik judi online yang jelas-jelas merugikan.
Sedangkan mereka yang kelewatan gimana, kak?
Mereka yang kelewatan yaitu menolak fakta mentah-mentah dan malah menjatuhkannya pada pemikiran negatif dan pesimisme. Dalam beberapa kasus berdampak ke berjalanannya kehidupan.
Contohnya, mereka menolak bahwa vaksin adalah hal yang baik. Padahal, kalau mau berusaha berpikir terbuka akan banyak fakta dan sejarah yang mendukung baiknya perkembangan vaksin.
Dampak negatif skeptisme
Meski memiliki sisi positif, skeptisme juga mengandung dampak negatif, diantaranya:
1. Kesulitan dalam mengambil keputusan. Karena selalu mempertanyakan dan meragukan informasi yang ada, sehingga pengambilan keputusan jadi tidak efektif.
2. Mengurangi kepercayaan ke orang lain. Bahkan pada sumber-sumber kredibel rasa percaya itu tidak ada. Ini juga bisa memperburuk hubungan sosial dengan orang lain.
3. Menghambat masuknya ilmu. Berpikir skeptis secara ekstrem dapat membuat seseorang sulit menerima ilmu dan fakta baru.
Berpikir skeptis adalah alat yang sangat berguna jika digunakan dengan tepat. Ini bisa menjadi perisai kita dari berbagai bentuk penipuan dan informasi yang menyesatkan. Namun, seperti halnya semua hal, ada batas yang perlu dijaga.
Sikap skeptis yang sehat mengajarkan kita untuk selalu mempertanyakan, tetapi juga untuk terbuka pada fakta dan bukti yang ada. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup dengan penuh kewaspadaan tanpa terjebak dalam keraguan yang berlebihan.
Alih-alih melihat skeptis sebagai hambatan, skeptis dapat digunakan sebagai sarana untuk mendorong pemikiran kritis yang lebih tajam dan keputusan yang lebih baik.