Intermittent Fasting Saat Fase Menyusui, Apakah Aman untuk Bayi?
Intermittent Fasting Saat Fase Menyusui, Apakah Aman untuk Bayi?
Intermittent fasting adalah salah satu metode diet yang mendorong pelakunya untuk mengatur pola makan dengan cara berpuasa dalam kurun waktu tertentu. Metode ini banyak digunakan dan terbukti membantu menurunkan berat badan serta menjaga kesehatan. Namun, pertanyaannya, apakah metode ini aman bagi ibu menyusui?
Aturan intermittent fasting
Intermittent fasting memiliki beberapa aturan waktu puasa yang beragam. Melansir Prudential, salah satu metode yang cukup mudah adalah 16:8, yaitu makan dalam rentang waktu 8 jam dan berpuasa selama 16 jam.
Ada juga metode 5:2, di mana seseorang makan secara normal selama lima hari dalam seminggu, lalu selama dua hari lainnya mengurangi asupan kalori hingga di bawah 500 kalori per hari. Karena metode ini mengharuskan puasa dalam periode tertentu, banyak ibu menyusui yang bertanya-tanya apakah intermittent fasting boleh dan aman dilakukan selama masa menyusui.
Apakah ibu menyusui boleh melakukan intermittent fasting?
Menurut Cleveland Clinic, ibu menyusui sebaiknya tidak melakukan intermittent fasting, terutama ketika masih aktif menyusui secara eksklusif. Hal ini karena berpuasa dapat mengurangi asupan kalori yang dibutuhkan untuk memproduksi ASI yang cukup dan bernutrisi. Sebaliknya, ibu menyusui dianjurkan untuk menambah jumlah asupan kalori sebanyak 330-600 kalori lebih banyak per hari untuk menjaga kesehatan dirinya dan bayinya.
Jika tujuan utama intermittent fasting adalah menurunkan berat badan, ibu menyusui bisa mempertimbangkan alternatif diet yang tetap menjaga asupan nutrisi dengan baik, seperti diet Mediterania yang kaya akan makanan sehat dan bergizi tanpa harus mengorbankan produksi ASI.
Dampak intermittent fasting terhadap ASI
Beberapa penelitian terkini menunjukkan bahwa puasa tidak selalu berdampak signifikan terhadap kandungan makronutrien dalam ASI. Namun, beberapa mikronutrien dalam ASI bisa mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Dalam studi yang meneliti ibu menyusui yang berpuasa selama Ramadan, ditemukan bahwa jumlah ASI yang diproduksi tetap stabil sebelum dan selama puasa. Akan tetapi, terjadi perubahan dalam konsentrasi laktosa, kalium, dan komposisi nutrisi lainnya dalam ASI. Perubahan ini mungkin tidak ideal bagi bayi, sehingga ibu menyusui yang ingin berpuasa atau melakukan intermittent fasting perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan untuk memahami potensi risikonya.
Setiap ibu memiliki kondisi tubuh yang berbeda-beda, sehingga dampak intermittent fasting terhadap ASI dan kesehatan ibu bisa berbeda pula. Jika ingin mencoba intermittent fasting, penting bagi ibu menyusui untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi.